Jumat, 25 April 2014

Menjaga Kesehatan Organ Reproduksi Wanita

Wanita sering khawatir bau menstruasi atau vaginanya tercium oleh orang lain. Akan tetapi, sebenarnya, orang lain tidak akan menyadari bau itu. Orang lain tidak akan tahu kalau kamu sedang menstruasi, tidak akan bisa mencium baunya, meskipun kamu sendiri menyadari adanya bau itu. Jadi, dalam situasi normal, orang lain tidak akan bisa mencium aroma yang muncul dari vagina. Itu sebabnya, tidak perlu menggunakan deodoran spray, tissue khusus vagina, atau pembalut yang mengandung parfum. Parfum atau bahan kimia yang ada di dalamnya bisa menyebabkan iritasi, alergi.
Vagina tidak perlu dibersihkan dengan cairan-cairan kimia lain. Cairan vagina yang secara rutin dihasilkan, akan secara otomatis menjaga vagina tetap bersih.
Tapi, kadang-kadang, cairan/lendir vagina bisa menyebabkan iritasi. Lendir yang keluar terlalu banyak membasahi celana dalam dan menjadikannya terlalu lembab di kulit sekitar vagina. Untuk menghindari iritasi seperti itu, gunakan celana dalam dari bahan katun, dan hindari menggunakan celana yang ketat.

Tips menjaga kebersihan vagina  :

  • Vagina cukup dibersihkan dengan air hangat atau dengan sabun lembut. Membersihkan vagina cukup dilakukan pada bagian luar saja. Bagian dalam vagina secara alami dijaga bersih oleh lendir yang dihasilkan.
  • Pada saat buang air, membasuh vagina dari arah depan ke belakang, sehingga kotoran dari anus tidak mengarah ke vagina. Sesudah buang air, keringkan daerah vagina dengan tissue, untuk menghindari basah dan lembab.
  • Bila sedang menstruasi, rajinlah mengganti pembalut. Pembalut digunakan maksimal 4 jam, bahkan sekalipun darah menstruasi hanya sedikit. Tujuan mengganti pembalut ini untuk mencegah berkembangnya bakteri.  
  • Mandi teratur, dan gunakan pakaian yang bersih.


Rambut di daerah vagina (rambut pubis/pubic hair) tidak perlu dicukur, akan tetapi dapat sedikit digunting dirapikan jika menyulitkan kita menjaga kebersihan saat menstruasi. Sebagian wanita memang lebih suka mencukur atau menghilangkan sama sekali rambut pubis ini dengan alasan untuk kebaikan penampilan saat berpakaian renang. Mencukur dapat menyebabkan rasa gatal dan tertusuk-tusuk yang sangat tidak nyaman yang timbul saat rambut mulai tumbuh. Mencukur atau menggunting tidak akan menyebabkan rambut pubis menjadi lebih tebal atau cepat panjang. Hal yang perlu diperhatikan adalah apabila memilih untuk mencukur, mencukur dilakukan dengan sangat hati-hati, agar tidak melukai kulit area vagina yang memang sangat sensitif. 

Gangguan pada Sistem Reproduksi Wanita

Gangguan pada sistem reproduksi wanita, yaitu :
  • Vulvovaginistis : peradangan pada vulva dan vagina.
  • Perdarahan non-menstrual
  • Endometriosis
  • Tumor ovarium
  • Kista ovarium
  • Polycystic ovary syndrome : gangguan hormonal, di mana hormon androgen diproduksi terlalu banyak oleh ovarium, sehingga menyebabkan ovarium membesar dan timbul kantong-kantong cairan atau kista.
  • Infeksi menular seksual, yg ditularkan melalui hubungan seksual : PID (Pelvic Inflammatory Disease, HIV, HPV, sifilis, Chlamydia, gonorrhea, herpes kelamin.

Tanda yang perlu diwaspadai
Adanya masalah pada sistem reproduksi wanita, bisa dikenali dari perubahan lendir vagina, karena infeksi vagina seringkali mengakibatkan abnormalitas pada lendir vagina.
Lendir vagina sendiri berubah-ubah warna, tekstur, dan jumlahnya, sesuai dengan siklus menstruasi. Bisa encer, lengket, elastis, dan liat. Warnanya bisa jernih, putih, atau off-white (putih mangkak).
Kondisi yang perlu dicurigai adalah sebagai berikut :
  • Lendir berbau tidak enak, amis.
  • Lendir berwarna kehijauan, keabu-abuan, atau mengandung nanah.
  • Lendir teksturnya berbusa, atau seperti putih telur kocok.
  • Vagina mengalami gatal-gatal, terasa terbakar, radang, atau memerah.
  • Perdarahan vagina meskipun tidak sedang menstruasi.
  • Rasa sakit ketika buang air kecil.

Infeksi vagina bukan hanya disebabkan karena infeksi yang ditularkan melalui hubungan seks, beberapa infeksi bukan disebabkan karena hubungan seks.

Pemeriksaan Payudara Sendiri

Pemeriksaan payudara sendiri bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin adanya masalah pada payudara, misalnya kista payudara, tumor jinak, atau bahkan kanker payudara.
Pemeriksaan payudara sebaiknya dilakukan sebulan sekali. Waktu yang paling pas adalah seminggu sesudah mulai menstruasi (hari ke-7 terhitung sejak hari pertama datangnya menstruasi).

Pemeriksaan terdiri dari 2 bagian : melihat dan meraba.

1.    Melihat
·    Duduk atau berdirilah di depan cermin dengan kedua tangan tergantung rileks di samping badan.
·    Dengan pencahayaan yang cukup, lihat dengan seksama payudaramu. Apakah kamu melihat ada sesuatu yang berbeda dari biasanya, baik pada puting atau kulit di payudara?
·    Putar badanmu serong ke kiri dan ke kanan untuk melihat dari berbagai sudut.
·    Angkat tanganmu ke atas. Lihat.
·    Letakkan tangan di pinggangmu dengan tangan menekan pinggang (sehingga otot dadamu mengencang), lalu membungkuk ke depan. Lihat.

2.    Meraba
Mungkin kamu merasa aneh jika ini adalah pertama kalinya kamu meraba payudaramu sendiri. Tapi tak ada alasan untuk merasa malu, kikuk, atau bahkan merasa bersalah.
  • Berbaringlah (letakkan punggungmu rata dengan alas berbaring).
  • Letakkan bantal di bawah bahu kirimu.
  • Letakkan tangan kirimu di bawah kepala.
  • Raba payudara kirimu dengan tangan kananmu. Gunakan tiga jari tengah. Gerakkan dengan gerak memutar, dari dekat ketiakmu melewati atas menuju ke tengah dada. Kemudian dari dekat ketiak melalui bawah menuju ke tengah dada. Pastikan kamu meraba seluruh bagian payudaramu (sampai ke atas dekat tulang selangka dan sampai ke bawah dekat tulang rusuk).
  • Ketika meraba, gunakan tekanan yang bervariasi. Mulailah dengan tekanan ringan, kemudian sedang, dan terakhir dengan tekanan kuat. Ini bertujuan untuk bisa merasakan lapisan jaringan payudara sampai ke bagian paling dalam.
  • Letakkan telapak tangan di payudara, dan japit puting dengan jari telunjuk dan jempol. Goyang-goyangkan sedikit. Apakah ada suatu cairan yang keluar?
  • Periksa payudara kananmu dengan cara yang sama.
  • Cek juga bagian ketiakmu, untuk memeriksa apakah ada benjolan.

Ketika kamu meraba, mungkin kamu merasakan ada benjolan. Jangan terburu-buru panik. Umumnya hal ini normal.
Pergilah ke dokter untuk memeriksa lebih lanjut, apabila :
  • Ada bagian yang sakit pada payudaramu, dan ini berlangsung selama satu siklus menstruasi penuh (sebulan).
  • Ada benjolan baru, atau ada perubahan pada payudaramu.
  • Payudaramu berwarna merah, bengkak, atau terasa panas/terbakar.
  • Ada cairan atau darah yang keluar dari putting.
  • Ada benjolan di ketiak, atau di dekat tulang selangka.


Payudara berbeda-beda ukurannya antara satu orang dengan yang lain. Bahkan payudara kiri belum tentu simetris dengan payudara kanan. Semuanya ini normal. Payudara masing-masing orang unik. 

Risiko Kehamilan Usia Remaja

Kehamilan pada usia remaja (di bawah usia 20 tahun), mempunyai risiko lebih besar atas kematian ibu maupun bayinya.  Risiko itu meliputi :
  • Kelahiran prematur.
  • Bayi lahir dengan berat badan kurang (BBL rendah) yang membuatnya rentan masalah kesehatan : paru-paru, usus, penglihatan.
  • Anemia (pada ibu)
  • Hipertensi terkait kehamilan (pada ibu) yang disebut pregnancy-induced hypertension.
  • Preeklampsia *
  • Placenta previa *

*Preeklampsia adalah kondisi medis berbahaya saat kehamilan yang gejalanya berupa meningkatnya tekanan darah (hipertensi), berlebihnya protein dalam air seni ibu, pembengkakan anggota tubuh (tangan dan wajah), dan kerusakan organ. Tingginya tekanan darah mengakibatkan mengecilnya pembuluh darah di uterus, yang berfungsi memberi janin oksigen serta semua nutrisi yang diperlukan. Akibatnya, perkembangan bayi pun terhambat. Jika Preeklampsia makin parah, penderitanya bisa mengalami kejang bahkan hingga koma.

*Placenta previa adalah masalah kehamilan di mana plasenta tumbuh di bagian paling bawah uterus (rahim) dan menutup semua atau sebagian jalan menuju cervix.

Ibu yang masih berusia remaja juga cenderung mempunyai kebiasaan hidup tidak sehat yang turut menambah risiko bayi mengalami gangguan pertumbuhan, infeksi, atau ketergantungan zat kimia.
Mengingat banyaknya risiko ini, disarankan agar begitu mengetahui kehamilan, calon ibu segera mendapatkan perawatan kehamilan yang tepat.


Aborsi

Aborsi adalah sebuah tindakan mengakhiri kehamilan sebelum janin/bayi mampu hidup mandiri di luar tubuh ibunya, sehingga dengan kata lain, dengan tindakan aborsi, tidak akan lahir seorang bayi dengan selamat.

PROSEDUR ABORSI

Kuret (sedot)
Metode ini adalah metode yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Pelaksanaannya diawali dengan bius lokal, yaitu pada daerah serviks. Sebuah spekulum dimasukkan ke dalam vagina, bius disuntikkan pada bibir serviks, dan kemudian serviks direnggangkan. Ketika serviks telah cukup membuka, sehingga dokter bisa mencapai rongga rahim, maka cannula dimasukkan. Cannula ini ujungnya terhubung dengan aspirator (mesin penyedot). Cannula diputarkan di rongga rahim  dan jaringan di rahim beserta janin disedot keluar. Kadang kala, bersama cannula, digunakan juga forceps untuk menyedot bagian tubuh janin, yaitu tulang belakangnya. Proses selesai ketika sudah tidak ada lagi jaringan yang tersedot (mengalir keluar). Kadangkala dokter melakukan scrab pada lapisan dinding rahim sesudah penyedotan selesai. Ketelitian dan kehati-hatian memang sangat dituntut guna menghindari robeknya rahim yang dapat mengakibatkan pendarahan. Peradangan juga dapat terjadi jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian tubuh janin yang tertinggal di dalam rahim. Pendarahan atau peradangan inilah yang disebut komplikasi paska-aborsi. Jika fatal, bisa berakhir pada operasi pengangatan rahim. Metode kuret ini hanya dilakukan untuk aborsi pada kehamilan trimester pertama, atau sebelum kehamilan berusia 12 minggu.



Meminum obat (oral medication)
Metode ini digunakan untuk menggugurkan janin pada awal kehamilan, yaitu dengan meminum obat jenis mifepristone. Obat ini bekerja dengan menghambat produksi dan mempengaruhi kinerja hormon progesteron. Hormon progesteron dibutuhkan untuk mempertahankan kehamilan pada usia awal. Ketika hormon progesteron kurang atau tidak bekerja dengan baik, maka rahim berkontraksi, lapisan endometrium tidak bersahabat dengan embrio yang sedang menempelkan diri, dan serviks melunak mendorong proses penyingkiran embrio (peluruhan). Sekalipun proses aborsi dengan metode ini seolah-olah lebih alami, namun wanita merasakan keluarnya embrio dari jalan lahir (hal ini tidak dialami pada prosedur aborsi kuret), dan meskipun pada saat ini embrio masih sangat kecil, wanita masih bisa mengenali sesosok tubuh pada gumpalan darah yang keluar tersebut. Oleh karena itu, untuk menghindari shock atau trauma atas hal ini, disarankan agar wanita mempersiapkan diri dengan mengetahui gambaran embrio dengan ukuran yang sebenarnya pada usia kehamilannya.

Dilation and Evacuation (D&E)
Metode ini adalah metode yang digunakan apabila masa kehamilan telah melewati trimester pertama (ketika pasien terlambat mengambil keputusan aborsi). Pada metode ini, secara umum pasien mengalami prosedur pembukaan serviks (dilation) sebagai persiapan operasi selama 1-2 hari. Operasi dilakukan dengan memasukkan spekulum yang ukurannya sesuai dengan ukuran janin dan forceps. Bagian tubuh janin dijepit secara acak dan ditarik keluar. Umumnya dokter menggunakan USG agar dinding rahim tidak ikut terjepit dan terobek. Oleh karena prosedurnya dilakukan dengan menarik secara acak bagian tubuh janin, biasanya bagian tubuh janin menjadi robek dan tidak utuh lagi, melainkan terpisah-pisah, dan karenanya, dokter harus melakukan beberapa kali pengambilan hingga semua bagian tubuh terambil dari uterus. Bagian tengkorak janin biasanya dihancurkan terlebih dahulu agar mudah dikeluarkan. Kemudian plasenta yang tertinggal disedot.
Metode ini paling berbahaya, karena darah yang keluar lebih banyak, dan wanita yang menjalaninya lebih berisiko mengalami komplikasi paska-aborsi, yaitu mengalami peradangan, robek dinding rahim, pendarahan atau gangguan kandung kemih. Dari 10-15% aborsi yang dilakukan sesudah trimester pertama dengan metode ini, dua pertiga pasien mengalami komplikasi dan separuhnya bahkan meninggal dunia.
Metode ini mempunyai variasi, yaitu mengeluarkan janin secara utuh, prosedurnya dinamakan Dilation and Extraction. Dengan metode ini, janin masih tampak utuh, tidak terpotong-potong. Akan tetapi, meskipun dikeluarkan utuh (kepala tidak terpisah), bagian tengkorak kepala tetap ditusuk terlebih dahulu untuk menyedot otak sehingga bagian kepala janin menjadi cukup kecil untuk dikeluarkan melewati cervix.




RISIKO ABORSI

Risiko aborsi terhadap kesehatan wanita :
  • Kerusakan rongga rahim, komplikasi, pendarahan.
  • Masalah pada kehamilan berikutnya, yaitu keguguran atau kelahiran prematur.
  • Kematian
  • Kanker payudara

Di samping adanya risiko terhadap kesehatan fisik, aborsi membawa risiko terhadap kesehatan mental, yang dikenal dengan Post Abortion Syndrome (PAS), atau Sindrom Paska Aborsi. Aborsi dilakukan dengan tujuan untuk membebaskan wanita dari peran sebagai ibu, akan tetapi, menurut hasil penelitian, pada wanita yang melakukan aborsi, perasaan sebagai ibu ini tetap tinggal dengan kuat meskipun janin/bayi itu telah ‘ditiadakan’, dan inilah yang membawa dampak psikologis berkelanjutan. Reaksi negatif yang muncul paska aborsi antara lain rasa duka, rasa bersalah, rasa malu, rasa marah, rasa menyesal, dan meningkatnya gejala gangguan emosional. Dampak emosional negatif ini bahkan bisa berlangsung seumur hidup. 

Berikut adalah sharing pengalaman wanita yang melakukan aborsi dengan metode oral-medication (meminum obat)

Saya berusia 26 tahun, ibu dari dua anak. Akhir November, saya menyadari bahwa diri saya hamil. Kehamilan ini tidak saya rencanakan bersama suami. Waktu itu saya menangis karena memiliki anak lagi akan menjadi terlalu berat bagi kami. Anak kami yang tertua sedang sakit dan dalam satu bulan terakhir, dua kali opname di rumah sakit. Kami juga masih mempunyai banyak hutang. Akhirnya, pada tanggal 31 Januari, saya memutuskan untuk mengakhiri kehamilan saya. Saya menempuh aborsi dengan meminum obat dan menggunakan obat vaginal. Pada keesokan harinya, saya terbangun karena merasa basah di kasur, saya pikir anak saya mengompol, tapi ternyata saya lah yang membasahi tempat tidur. Jantung saya berdegup kencang. Saya pergi ke toilet dan duduk di kloset. Baru saja saya hendak kembali ke kamar, tiba-tiba saya merasakan ada sesuatu yang keluar. Saya terkejut bukan main ketika melihat sesuatu yang keluar itu, saya melihat seorang bayi. Saya tidak pernah berpikir bahwa seperti itulah yang akan saya lihat. Mereka mengatakan bahwa itu hanyalah jaringan, tapi TIDAK, itu adalah seorang bayi – dengan tangan dan kaki!!  Saya pun menjerit dan menangis keras-keras. “Ya Tuhan, itu adalah bayiku!!” Suamiku datang dan ikut menjerit serta menangis. Sesungguhnya, dia tidak ingin menggugurkan bayi kami. Semua ini adalah keputusanku, dan karenanya, aku benar-benar merasa bahwa aku adalah seorang ibu yang payah, membunuh anakku sendiri. Aku menyesal tidak berjuang untuk bayiku seperti suamiku berusaha berjuang untuknya. 
(Filipina, 23 Februari 2014)

Sistem Reproduksi Pria

Sistem reproduksi pria terdiri dari organ dalam dan organ luar.

Organ reproduksi pria meliputi :
  • Testis
  • Penis
  • Saluran kelamin : epididimis dan vas deferens
  • Kelenjar kelamin : kelenjar prostat dan vesikula seminalis

Testis
Ketika pria matang secara seksual, dua testisnya memproduksi dan menyimpan jutaan sel sperma. Testis juga memproduksi hormon testosteron. Testosteron adalah hormone yang berperan dalam perkembangan pubertas pria, yang membuat suara menjadi lebih dalam, otot lebih besar, menumbuhkan rambut di tubuh dan wajah, dan juga menstimulasi testis untuk menghasilkan sperma.
Testis bergantung di luar rongga panggul dalam kantung yang disebut scrotum. Kantong kulit scrotum ini berfungsi mengatur suhu testis karena untuk memproduksi sperma, dibutuhkan suhu yang cukup rendah. Scrotum bisa membesar maupun menciut. Ketika tubuh bersuhu panas, scrotum akan membesar untuk membuang panas yang berlebih. Sedangkan ketika tubuh bersuhu dingin, scrotum akan menciut untuk menampung panas tubuh.

Epididimis
Epididimis yaitu saluran yang keluar dari testis. Saluran ini panjang dan berkelok- kelok di dalam skrotum. Di dalam epididimis ini sperma disimpan untuk sementara waktu sambil menyempurnakan perkembangannya, kurang lebih 4-6 minggu.

Vas deferens
Vas Deferens merupakan saluran lanjutan dari epididimis. Kalau epididimis merupakan saluran yang berkelok- kelok maka vas deferens merupakan saluran lurus dan mengarah ke atas. Bagian ujungnya terdapat di dalam kelenjar prostat. Fungsi vas deferens ini adalah untuk jalannya sperma (cairan semen) dari epididimis menuju ke kantong sperma atau vesikula seminalis.

Kelenjar kelamin, yang terdiri dari kelenjar prostat dan vesikula seminalis berfungsi untuk menghasilkan cairan yang melumasi saluran kelamin dan memberi makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis adalah struktur yang menyerupai kantong menempel pada vas deferens di samping kandung kemih.
Kelenjar prostat terletak di pangkal urethra (ujung atas urethra), di bawah kandung kemih, memproduksi cairan yang menjadi bagian semen.

Urethra adalah saluran yang membawa semen keluar dari tubuh melalui penis. Urethra juga merupakan saluran kencing.

Penis
Penis terdiri dari 2 bagian : batang penis dan kepala penis. Batang penis merupakan jaringan seperti spons yang bisa mengembang dan mengkerut. Ketika seorang pria terangsang secara seksual, jaringan itu akan penuh berisi darah sehingga membuat penis kaku dan lurus. Kakunya penis ini berfungsi memudahkan penis untuk dimasukkan ke dalam vagina. Di kepala penis, terdapat lubang kecil tempat keluarnya semen atau urine.
Semua anak laki-laki lahir dengan kulup, yaitu lipatan kulit yang menyelubungi batang penis. Kulup ini bisa dipotong, yang mana prosesnya dikenal dengan khitan/sunat. Sunat secara medis bukan sebuah keharusan. Penis yang disunat maupun yang tidak disunat sama saja, tidak berbeda sama sekali, dalam hal caranya berfungsi maupun caranya merasa.


Gambar organ reproduksi pria


CARA KERJA SISTEM REPRODUKSI PRIA

Ketika tiba masa pubertas (usia 10-14 th), kelenjar pituari (dekat otak) memproduksi hormon yang menstimulasi testis untuk menghasilkan testosteron. Testosteron berperan membawa perubahan-perubahan fisik pubertas sebagai berikut :
  • Testis dan skrotum membesar.
  • Penis memanjang.
  • Kelenjar prostat dan vesikula seminalis tumbuh.
  • Rambut tumbuh di sekitar kelamin dan kemudian di bagian wajah dan ketiak.
  • Suara menjadi lebih dalam.
  • Pertambahan tinggi badan dan berat badan secara pesat (grow spurt).

Ketika bayi laki-laki lahir, di dalam testisnya sudah ada sel-sel sederhana berbentuk bulat. Pada saat pubertas, sel-sel ini berkembang menjadi sperma karena pengaruh hormon testosteron dan hormon-hormon lainnya. Sperma mempunyai kepala dan ekor. Kepala sperma membawa gen, sedangkan ekornya berfungsi memampukannya untuk bergerak.
Sperma yang masih dalam proses perkembangan, bergerak menuju epididimis untuk menyempurnakan perkembangannya di sana, yang mana prosesnya berlangsung selama 4-6 minggu. Sperma yang sudah matang baru kemudian bergerak menuju vas deferens.
Vesikula seminalis dan kelenjar prostat menghasilkan cairan berwarna putih yang kemudian akan bergabung bersama sel sperma menjadi cairan semen.
Ketika seorang pria terangsang secara seksual, penisnya akan menegang dan menjadi kaku (ereksi). Apabila penis mendapat stimulasi, otot-otot sekitar organ reproduksi akan berkontraksi, dan mendorong semen keluar dari salurannya melalui urethra. Proses keluarnya semen ini disebut ejakulasi. Cairan semen yang keluar saat ejakulasi membawa hingga 500 juta sel sperma.

Apabila sperma masuk ke dalam vagina, sperma akan berenang menuju cervix, kemudian melewati uterus (rahim) dan menuju tuba falopi. Bila saat itu di tuba falopi ada sel telur yang telah matang, sperma bisa membuahinya, dan terjadilah proses pembuahan (fertilisasi/konsepsi). Sel telur yang dibuahi sperma disebut zygote. 

Ereksi dan Ejakulasi

Ereksi adalah kondisi di mana penis membesar, menjadi keras/kaku, dan tegak, karena jaringan di dalamnya terisi darah. Sifat kaku penis saat ereksi ini bermanfaat memudahkan penis untuk dimasukkan ke dalam vagina ketika mengadakan sexual intercourse (hubungan seks).

Penyebab ereksi bisa karena melihat atau membayangkan sesuatu yang seksi. Tapi bisa juga karena tanpa alasan. Terutama pada saat remaja, hal ini normal, jika tiba-tiba kamu mengalami ereksi tanpa ada sebab yang jelas. Ereksi tidak bisa dikontrol, tapi bisa menghilang sendiri. Ereksi memang bisa menghilang setelah ejakulasi (pengeluaran cairan semen melalui uretra atau lubang di ujung penis), tapi jika dibiarkan pun akan menghilang sendiri.

Jumlah ereksi tiap harinya berbeda antara satu orang dengan lainnya. Tak ada jumlah yang bisa dikatakan normal. Ada yang dalam satu hari sangat banyak, tapi ada juga yang tidak mengalami ereksi sama sekali. Tingkat hormon berbeda karena faktor usia, kematangan seksual, dan juga jumlah jam tidur.


Ereksi yang ditindaklanjuti dengan perangsangan penis yang cukup, bisa membuat seorang pria mengalami orgasme (puncak kenikmatan seksual), yang ditandai dengan ejakulasi, yaitu keluarnya cairan semen melalui ujung penis. Sesudah orgasme, ereksi segera menghilang, penis menjadi rileks, dan saat itu, seorang pria menjadi tidak responsif terhadap rangsangan apapun, atau penisnya menjadi tidak sensitif lagi untuk sementara waktu.